Sehubungan dengan hari Ibu, sebenarnya ini aku tulis tahun lalu, 22 Juni 2005. Tapi ga ada salahnya aku posting ulang, sekedar mengingatkan saja kalo membaca curahan hati saat itu ternyata rasanya hampir sama sampai saat ini. Hiks... i missed you, Mom!!Kurang lebih 15 tahun yang lalu, Ibuku meninggal karena penyakitnya yang diderita beberapa tahun sebelumnya. Ibu di diagnosis Kanker Payudara, suatu penyakit yang sampai sekarang menjadi momok atau monster dalam ingatanku. Karena penyakit itulah aku tidak bisa lagi menikmati kasih sayangnya atau boleh dikatakan belum puas, sebab waktu itu aku masih berumur 12 tahun. Sungguh hampa rasanya pada waktu itu, dimana teman-temanku masih bisa memeluk Ibunya ketika pulang sekolah. Tapi aku.... Ah sudahlah!
Ketakutanku belum berakhir sebenarnya karena dari artikel yang pernah aku baca kanker payudara salah satu penyebabnya adalah karena faktor genetik dan hormonal dan faktor ada riwayat keluarga yang menderita kanker payudara. Tapi apapun itu aku pasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Seringkali Ibu datang dalam mimpiku, walau tanpa bicara tapi aku tahu Ibu selalu mengawasiku dari surga. Tanpa terasa air mataku menetes saat ini mengingat senyumnya dalam mimpi-mimpiku.
Ibu... aku rindu, aku kangen, aku ingin memelukmu.... Maafkan segala kekonyolanku atau kenakalanku atau kebodohanku ataupun kekurangajaranku waktu dulu. Sungguh sekarang setelah Ibu tiada aku merasakan suatu kehilangan yang sangat besar. Menyesal rasanya dulu aku selalu menolak saat Kau meminta tolong sesuatu. Sungguh kalau waktu bisa diulang aku ingin berbakti dan menurut semua keinginanmu Ibu.
Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis. Meski Ibu sering kesal karena kenakalanku, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku aku berharap Ibu masih ada menuntunku menuju ke pelaminan menunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu.
Betapa menyesalnya, bila telah tiada. Ketika kita lahir menangis, Ibu tertawa, semua orang tertawa gembira, Ibu yang pertama kali dan setiap saat mencium kita. Ia akan terus melakukannya, sayang kita merasa tidak perlu. Tanpa pamrih Ia lakukan. Dengan kasih sayang penuh Ia berikan. Ketika kita sakit, Ia ikut sakit. Ketika kita tidak bisa tidur, Ia ikut-ikut lembur. Ketika kita tidak mau makan, Ia korbankan apa saja agar kita makan. Apa yang bisa kita lakukan saat ini?
Bagi yang masih mempunyai seorang Ibu, begitu ketemu, ciumlah Ibu. Bila jauh, angkat telepon, minta ampun. Saya bayangkan Ibu akan meneteskan air mata. Air mata ketulusan kasih sayang seorang Ibu.
Comments