Berikut curahan hati yang sempat di posting di notes FB tanggal 18 Mei 2011:
Tuhan, titip rinduku untuk mereka
Tuhan, salahkah kalo aku mengadu?
Aku tidak ingin mengeluh
Aku hanya ingin mengeluarkan isi hatiku
Meski aku tidak pandai merangkai kata-kata
Tuhan, ternyata aku tak setegar yang orang kira
Aku tetaplah makhluk yang cengeng
Bagaimanapun aku juga seorang anak, yang tetap butuh kasih sayang orang tua
Tuhan, telah kau pertemukan mereka kembali disisimu
Aku titipkan mereka padaMu
Semoga kelak kami bisa berkumpul kembali
Tuhan, hanya untaian doa yang bisa kutitipkan padamu untuk mereka
Dan... Titip kenangan manisku buat mereka
Ibu...
Ah, masih melekat raut wajahmu dalam ingatanku
Setiap kau hadir dalam mimpi, raut wajahmu begitu bersih bersinar
Tapi tak sepatah katapun yg keluar dari dirimu
Ingin rasanya ku bermanja lagi denganmu
Rasanya wangi tubuhmu masih bisa kuingat
Saat kubermanja dibawah lenganmu, kau tak pernah marah
Ayah...
Saat terakhir aku masih bisa menatapmu
Tampak raut tua wajahmu, kesabaranmu, sayangmu pada anak-anakmu...
Ku masih sempat menggenggam dan membelai tanganmu yang kokoh itu
Tangan itu pula yang tak pernah berhenti berdiam diri
Apa yang tampak kurang rapi kau tak bisa biarkan
Kau tak pernah mengeluh
Kau tak pernah ijinkan anakmu tahu penderitaanmu
Ternyata Tuhan sangat sayang padamu
Tuhan memanggilmu pulang kembali
Tuhan, gemetar aku saat menulis ini dan dadaku bergemuruh
Tapi aku ikhlas, semua pasti akan kembali pada-Mu kelak
Meski menurutku sangat singkat mereka bersamaku, tapi bagiMu ini sudah cukup
Love you,
kupersembahkan untuk
alm. Ayahanda Djauhari RH dan Ibunda Soeprapti
***
Kurang lebih sebulan lebih sebelum Bapak berpulang, rasanya ga terasa ada hal yang janggal atau aneh. Karena katanya 40 hari sebelum diambil-Nya, yang dituju sudah memberikan firasat. Atau mungkin orang sekelilingnya aja yang ga merasa. Terus terang kami ga punya banyak kenangan dengan Bapak sejak beliau menikah lagi, setelah menduda kurang lebih 10 tahun. Sejak itulah Bapak banyak berubah, seakan-akan Bapak direnggut paksa dari kami, dijauhkan dari anak-anak dan cucu-cucunya. Sungguh yang kami rasakan dulu dan sekarang adalah, sang ibu tiri kami sangat-sangat tidak adil dalam membagi perhatiannya. Kami ga perduli perhatian dari si ibu tiri, yang kami perdulikan dan liat hanya sosok Bapak. Terus terang kami iri sebenarnya karena sejak menikah lagi, Bapak serasa lebih dekat dengan anak-anak dan cucu tirinya. Karena emang porsi yang diberikan kepada kami tidak adil. Seakan dijatah X_X
Yah... kalo mo diomongin apa aja rasa ketidak adilan itu, rasanya ampe keriting nih jari juga ga akan kelar ceritanya. Capek hati juga kalo disuruh mengingat-ingat. Intinya lagu ibu tiri itu ada benernya juga, yang hanya sayang dan cinta pada bapakku saja plus harta bapakku saja *yang ini aku tambahin sendiri heheheh*
Mo bilang matre, Bapakku bukan tuan tanah atau konglomerat tapi kok ya diporotin juga ya? Sampe saat sehari Bapak meninggal, kuburannya masih basah si emak tiri itu dah ribut, ribet, rempong mo ngurusin jatah taspennya. Hadeeeuuu.... kenapa anda ga bisa jaga hati si anak kandungnya sih buk?? Kalo memang itu hakmu pasti akan dapatlah, tapi jangan disaat semua orang berduka tiba-tiba kau sibuk sendiri mengurus itu. Tenang aja, kami ga akan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak kami. Haram hukumnya, kami lebih takut kepada balasannya kalo makan hak orang lain. Astagfirullah...
Enough tentang mak tiri, kelaut aja *nada-nadanya dendam dg mak tiri nih aku? hahaha.....*
Allah telah berlaku adil, karena mengambil Bapak disaat tepat yang mungkin Bapak sendiri sudah 'lelah' bersandiwara. Didepan kami Bapak mengaku bahagia, tapi kami sendiri melihat betapa Bapak telah berubah jauh. Seperti orang linglung, bingung, dan seperti diperbudak lebih tepatnya mirip kacung kalo dirumah sana. Maap beribu maap, seperti 'sapi yang dicocok hidungnya'. Ga tahu apa yang terjadi dengan Bapak, yang dulunya Bapak hangat, sangat perhatian dengan cucu-cucunya. Ah sutralah.... yang pasti kakak lelakiku pernah mendapati sesuatu yang bikin kita ga percaya, ada benda magic yang isinya barang-barang sensitif milik Bapak diikat jadi satu. Astagfirullah.... katanya hajjah kenapa main beginian?
Ah kenapa jadi ngelantur, kan ini mo ngomongin tentang Bapak. Sebulan sebelum meninggal Bapak ke Surabaya, aku jemput di terminal bungurasih. Setiap Bapak dateng pengen aja bisa nyenengin, ya meski cuma ngajak makan atau ngasih sedikit rejeki (baca ongkos pulang) atau oleh-oleh. Meski Bapak cuma sehari dirumah, karena dah dapat pesan sponsor agar ga boleh lama-lama, kalo lamaan dikit ditelponin terus (hadeehh kok ke sono lagi ngomongnya).
Tuhan, titip rinduku untuk mereka
Tuhan, salahkah kalo aku mengadu?
Aku tidak ingin mengeluh
Aku hanya ingin mengeluarkan isi hatiku
Meski aku tidak pandai merangkai kata-kata
Tuhan, ternyata aku tak setegar yang orang kira
Aku tetaplah makhluk yang cengeng
Bagaimanapun aku juga seorang anak, yang tetap butuh kasih sayang orang tua
Tuhan, telah kau pertemukan mereka kembali disisimu
Aku titipkan mereka padaMu
Semoga kelak kami bisa berkumpul kembali
Tuhan, hanya untaian doa yang bisa kutitipkan padamu untuk mereka
Dan... Titip kenangan manisku buat mereka
Ibu...
Ah, masih melekat raut wajahmu dalam ingatanku
Setiap kau hadir dalam mimpi, raut wajahmu begitu bersih bersinar
Tapi tak sepatah katapun yg keluar dari dirimu
Ingin rasanya ku bermanja lagi denganmu
Rasanya wangi tubuhmu masih bisa kuingat
Saat kubermanja dibawah lenganmu, kau tak pernah marah
Ayah...
Saat terakhir aku masih bisa menatapmu
Tampak raut tua wajahmu, kesabaranmu, sayangmu pada anak-anakmu...
Ku masih sempat menggenggam dan membelai tanganmu yang kokoh itu
Tangan itu pula yang tak pernah berhenti berdiam diri
Apa yang tampak kurang rapi kau tak bisa biarkan
Kau tak pernah mengeluh
Kau tak pernah ijinkan anakmu tahu penderitaanmu
Ternyata Tuhan sangat sayang padamu
Tuhan memanggilmu pulang kembali
Tuhan, gemetar aku saat menulis ini dan dadaku bergemuruh
Tapi aku ikhlas, semua pasti akan kembali pada-Mu kelak
Meski menurutku sangat singkat mereka bersamaku, tapi bagiMu ini sudah cukup
Love you,
kupersembahkan untuk
alm. Ayahanda Djauhari RH dan Ibunda Soeprapti
***
Kurang lebih sebulan lebih sebelum Bapak berpulang, rasanya ga terasa ada hal yang janggal atau aneh. Karena katanya 40 hari sebelum diambil-Nya, yang dituju sudah memberikan firasat. Atau mungkin orang sekelilingnya aja yang ga merasa. Terus terang kami ga punya banyak kenangan dengan Bapak sejak beliau menikah lagi, setelah menduda kurang lebih 10 tahun. Sejak itulah Bapak banyak berubah, seakan-akan Bapak direnggut paksa dari kami, dijauhkan dari anak-anak dan cucu-cucunya. Sungguh yang kami rasakan dulu dan sekarang adalah, sang ibu tiri kami sangat-sangat tidak adil dalam membagi perhatiannya. Kami ga perduli perhatian dari si ibu tiri, yang kami perdulikan dan liat hanya sosok Bapak. Terus terang kami iri sebenarnya karena sejak menikah lagi, Bapak serasa lebih dekat dengan anak-anak dan cucu tirinya. Karena emang porsi yang diberikan kepada kami tidak adil. Seakan dijatah X_X
Yah... kalo mo diomongin apa aja rasa ketidak adilan itu, rasanya ampe keriting nih jari juga ga akan kelar ceritanya. Capek hati juga kalo disuruh mengingat-ingat. Intinya lagu ibu tiri itu ada benernya juga, yang hanya sayang dan cinta pada bapakku saja plus harta bapakku saja *yang ini aku tambahin sendiri heheheh*
Mo bilang matre, Bapakku bukan tuan tanah atau konglomerat tapi kok ya diporotin juga ya? Sampe saat sehari Bapak meninggal, kuburannya masih basah si emak tiri itu dah ribut, ribet, rempong mo ngurusin jatah taspennya. Hadeeeuuu.... kenapa anda ga bisa jaga hati si anak kandungnya sih buk?? Kalo memang itu hakmu pasti akan dapatlah, tapi jangan disaat semua orang berduka tiba-tiba kau sibuk sendiri mengurus itu. Tenang aja, kami ga akan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak kami. Haram hukumnya, kami lebih takut kepada balasannya kalo makan hak orang lain. Astagfirullah...
Enough tentang mak tiri, kelaut aja *nada-nadanya dendam dg mak tiri nih aku? hahaha.....*
Allah telah berlaku adil, karena mengambil Bapak disaat tepat yang mungkin Bapak sendiri sudah 'lelah' bersandiwara. Didepan kami Bapak mengaku bahagia, tapi kami sendiri melihat betapa Bapak telah berubah jauh. Seperti orang linglung, bingung, dan seperti diperbudak lebih tepatnya mirip kacung kalo dirumah sana. Maap beribu maap, seperti 'sapi yang dicocok hidungnya'. Ga tahu apa yang terjadi dengan Bapak, yang dulunya Bapak hangat, sangat perhatian dengan cucu-cucunya. Ah sutralah.... yang pasti kakak lelakiku pernah mendapati sesuatu yang bikin kita ga percaya, ada benda magic yang isinya barang-barang sensitif milik Bapak diikat jadi satu. Astagfirullah.... katanya hajjah kenapa main beginian?
Ah kenapa jadi ngelantur, kan ini mo ngomongin tentang Bapak. Sebulan sebelum meninggal Bapak ke Surabaya, aku jemput di terminal bungurasih. Setiap Bapak dateng pengen aja bisa nyenengin, ya meski cuma ngajak makan atau ngasih sedikit rejeki (baca ongkos pulang) atau oleh-oleh. Meski Bapak cuma sehari dirumah, karena dah dapat pesan sponsor agar ga boleh lama-lama, kalo lamaan dikit ditelponin terus (hadeehh kok ke sono lagi ngomongnya).
Comments