Skip to main content

My Super Dad

Foto keluarga, lebaran 2009

Settingan suasana ketika mo nulis, ga ada niat sih sebenernya cuma kok timingnya aja yang pas. Anak-anak dah pules, berikut pula dengan Ayahnya *sigh* tinggallah sendirian hanya ditemeni suara tv (karena emang matanya ga ke tv), dan sesekali buka halaman fb (xixixi... teuteup). Lama banget ga posting cerita disini, jadinya bingung deh mo yang mana yang ditulis duluan.
Wokeh mari kita mulai *sambil garuk-garuk kepala* :P

Selasa, 3 Mei 2011 (pas ultah Opi)
Inget betul saat itu awal Mei, sempat dapat telp dari kakak cowok di Pamekasan. Yang pagi itu tiba-tiba ngabarin sesuatu yang ga akan kukira membuat semuanya berubah. *mulai berkaca-kaca*. "kamu jangan kaget dulu ya, (suara si kakak diujung telp)". "ya kenapa?", sahutku sambil berdebar-debar ga karuan. "bapak sekarang sedang ada di RS Sumenep, kena stroke", kata si kakakku menjelaskan dengan singkat saja. Dia menjelaskan pula akan segera berangkat menjemput Bapak untuk dipindah ke RS Pamekasan karena si Kakak cowokku ini kerja disana yang akan memudahkan untuk mengontrol segala sesuatunya. Oh ya, fyi Bapak ada di Sumenep karena ikut istrinya (emak tiri-ku). Kaget dong denger kabar seperti itu, tapi si kakak berusaha meredam kekuatiranku dengan mengatakan akan segera memberi kabar jika nanti sudah ketemu Bapak langsung.

Ga sabar nungguin kabar selanjutnya, akhirnya telp dan dapat kabar kalo Bapak tiba-tiba saja kena stroke-nya. Yang ketahuan suaranya atau cara bicaranya sudah ga begitu jelas. Duh ya Allah, ingin rasanya ku pinjem pintu doraemon langsung menemui beliau. Tapi apa daya si Opi sedang kena cacar air. Ntah dari mana Opi dapat virus cacarnya, justru dulu sempat ketakutan ama penyakit ini, dan bodohnya anak-anak ga segera aku vaksin varicella karena mahalnya harga vaksin. Tapi apa artinya uang kalo dah kena :(
Dengan berat hati, aku nyatakan belum bisa nengok Bapak karena si Opi ga mungkin aku tinggalin ataupun aku bawa kesana. Kuatir nularin, karena akan memperluas wabah penyakit ini. Dirumah aja aku karantina agar ga nulari adik dan Ayahnya. Kecuali aku yang sudah kena dulu, katanya sih dah kebal. Tapi sungguh, fisik dirumah tapi pikiran ada di Bapak, akhirnya aku meminta atau mengutus kakak tertua untuk mewakili agar segera menengok keadaan Bapak disana. Disana kakak tertua ngasih kabar sambil nangis, dan berkat smartphone pula aku bisa segera dapat kiriman foto2 terkini tentang Bapak. Ya Allah, melihat fotonya saja sudah menguras air mata. Aku inget betul ditelp hari selasa, rabu dapat foto2 di rs yang sudah mulai ga sadar.

Rabu, 4 Mei 2011
Rabu siang karena sudah ga tahan, meminta persetujuan suami agar aku diijinkan pulan sendiri ke Pamekasan demi nengok Bapak karena aku ga mau taruhan apa Bapak masih diberi umur panjang atau tidak? Alhamdulillah suamiku bisa ijin pulang lebih cepat, aku minta suruh jaga anak2 dirumah terutama Opi yang lagi kena cacar. Untung juga ada tetangga sebelah yang bisa dimintain tolong titip sementara Ayahnya anak-anak nganter aku ke terminal. Nungguin busnya dateng aja rasanya laamaaaa banget, dah ga sabar rasanya pengen terbang.
Nyampe RSUD Pamekasan pas jam 18, pas pula Bapak dipindah dari kamar paviliun ke ruang ICU. Duh ya Allah, berarti Bapak makin parah. Saat aku diijinkan masuk ke ICU, Bapak masih dalam proses dipindahkan dari kasur dorong ke kasur diruang sana dan berikutnya dipasang berbagai alat2 untuk memonitor kondisi Bapak.
ketika di ICU

Kesan pertama agak 'seram' dikamar itu, karena dari deretan kasur pasien sebagian terisi oleh pasien yang sudah uzur dan rata2 seperti sudah kritis. Ada pula kasur yang masih kosong, dan pas disebelah Bapak ada pasien bayi perempuan lucu kira2 umurnya 5 bulan. Sambil menunggu proses perpindahan Bapak, aku iseng merhatikan bayi perempuan itu. Betapa hancurnya hati si ibu pastinya, melihat kondisi anaknya yang sedang koma (rasanya sependek yang saya lihat). Tapi kok ada yang aneh apalagi ga suka dengan beberapa para perawat jaganya. Kurang ramah, kurang perhatian, sok banget, wah pokoknya nyebelin. Anehnya dari pasien bayi itu kok rasanya udah ga bernafas, monitornya pun garisnya flat tapi kok ga ngeluarin suara seperti yang aku liat di tv. Hem... aku colek kakak perempuanku (tertua) dia juga mengangguk setelah aku bisikkan keanehan itu trus untuk membunuh rasa penasaran aku tanyain ke sodara yang kebetulan siswa perawat disana. Huh... jawabannya sama 'sok tahu'nya itu yang nyebelin, dibilang 'emang begitu kok'. Dalam hati saya teriak, "Hey.... saya memang bukan seorang dokter (meski dulu bercita-cita jadi dokter), saya juga bukan perawat, atau suster atau orang medis. tapi sedikit banyaknya saya pernah liat dan baca-baca apalagi belajar di internet atau ikut mailing list juga banyak. Kayaknya nih bayi dah ga bernyawa deh". Duh protes saya dalam hati ga lama terjawab. Si perawat ngeh juga saya merhatiin si bayi itu, dan ternyata.... bener bayi itu dah ga bernafas. Udah dipompa dll, hasilnya ga ada perbaikan. Ya Allah, smoga karena bukan kelalaian yang menjaga *nunjuk perawat jaga*. Bisa ditebak kejadian berikutnya, orang tua dan kerabatnya menangisi bayi itu. Maaf bukan saya ga perduli meski hati batin saya ga terima. Tapi waktu itu saya juga dalam kondisi ga enak. Kembali ke Bapak...

Saat semua sudah terpasang, Bapak dibisikkan kalo saya datang. "pak, ini Nora sudah datang". Sekali lagi ya Allah aku menyebut nama-Mu, Bapak meski dalam keadaan tidak sadar (waktu itu dinyatakan sudah koma), kepala Bapak memutar perlahan kearah suara saya yang tepat disebelah kanan kepala Bapak. Subhanallah, perasaan antara sedih, takut, kalut, dan senang Bapak masih mengenali, mendengar, dan mencari arah suara saya. "Ya Pak, saya datang. Bapak harus kuat, sehat kembali, Bapak pasti bisa".
Selanjutnya saya sudah ga bisa membendung air mata, tapi anehnya tidak sebanyak dan tidak sehikteris saat hanya bisa melihat fotonya saja. Apa mungkin karena sudah berhadapan langsung, melihat langsung keadaan beliau. Beberapa saat masih sempat nungguin, ku genggam tangannya yang kokoh dan besar itu. Ku elus-elus, ntah Bapak tahu atau tidak tapi aku yakin beliau mendengar. Grafik dimonitor sudah ga bisa diprediksi dan dibaca normal, karena naik turunnya kadang tinggi ke atas atau turun tajam. Ya, Bapak ngorok dan ngoroknya itu seperti sedang melakukan komunikasi. Apa beliau sedang ingin menyampaikan sesuatu, karena ngoroknya tidak teratur. Sesekali tangan kirinya berusaha meraih maskes oksigennya agar dapat dilepas. Kaki kirinya juga sesekali aktif bergerak seperti ingin menendang. Sedang yang bagian tangan/kaki kanan, tidak nampak gerakan. Apa Beliau sudah lumpuh separuh?

Karena ga boleh ditungguin banyak orang, atau bahkan ga boleh ada keluarga yang nungguin didalam kita diminta keluar. Banyak tamu berdatangan mulai dari saudara, tetangga, atau kerabat lainnya. Antara pengen nginep sampe liat Bapak pulih, tapi pikiran ada dirumah karena ninggalin 2 anak yang satunya sedang sakit cacar pula. Tuhan, mungkinkan ini ujian yang kau berikan padaku? Sanggupkah aku melewati semua ini? Tuhan, andai aku bisa dibagi tentu aku ga akan meninggalkan Bapak untuk kembali ke Surabaya. Tapi karena aku yakin disana Bapak aman dengan kakak sendiri, sodara, dan tentunya ada istrinya Bapak.
Sejak jam 1 dini hari nunggu bus, yang akhirnya baru dapat bus jam 3 menjelang subuh. Nyampe Surabaya jam 6an, rasanya meski badan letih tapi mata sulit untuk terpejam.

Kamis, 5 Mei 2011
Istirahat sebentar, karena tidur ga bisa nyenyak. Bus biasa, angin dari jendela juga dingin, kursi kurang nyaman, sempit, dan tidur sambil duduk. Yah gpp, nikmati sajalah daripada naik dokar :P Suami kembali masuk kantor, anak-anak hepi karena emaknya dah kembali :)
Kembali menjadi perawat buat Opi yang kena cacar, sambil kembali telp2an dengan kakak yang disana menjaga Bapak. Katanya blum ada perbaikan meski semua obat sudah dimasukkan.
Malam hari sempat chating dengan kakak perempuan yang disini, dia sama dengan ku punya perasaan yang ga enak tentang Bapak. Dia ngajuin cuti dadakan untuk besok pulang ke Pamekasan dulua, yang awalnya sudah janjian dengan aku untuk kembali ke Pamekasan hari Sabtu. Yak emang rencananya kita semua akan kembali nengok di hari Sabtu, suami libur dan Opi kembali kontrol ke dokter di RS Mitra Keluarga apakah cacarnya perlu mendapat tambahan obat (antibiotik) kalo ketahuan ada yang infeksi. Dan dapat pernyataan sudah tidak menular. Kasihan kalo bawa Opi kesana kuatir nulari anak-anak dari kakakku yang disana.
Ga sabar menunggu hari sabtu yang masih 2 hari lagi.

Jumat, 6 Mei 2011
Ternyata.... Allah punya rencana atau berkehendak lain. Kakak perempuanku sudah nyampe disana sebelum sholat jumat, dan Bapak sudah dikeluarkan dari RS yang tentunya semua sudah ditanyain. Alasannya di ICU Bapak ga ada perubahan yang baik meski semua obat sudah masuk, Bapak disana merasa sendirian karena ga boleh ditungguin, mungkin kalo dibawa pulang dan kelilingi anak-anaknya tensinya bisa turun kembali. Kita bisa bantu ngaji disekitarnya. Jadi inget pengalaman waktu Bapak akan dioperasi ambien dulu, 4 hari stay di RS dokter blum juga berani ambil keputusan operasi karena tensi Bapak ga mau turun. Ketika diputuskan untuk pulang dulu, anehnya tensinya jadi turun dan normal. hehehe... ternyata Bapak disana tegang, sehingga tensinya ga mau turun.
Tentunya Bapak dipulangkan tetap dengan membawa semua peralatan seperti tabung oksigen dll, minus monitor pacu jantung. Itulah untungnya punya kakak yang orang medis, mulai tempat tidur dan ambulance bebas dapat sumbangan langsung dari direktur RSnya karena sudah kenal baik (ya iyalah, dia orang nomor dua ditempat klinik yang dipunyai direktur rs itu).
ketika sudah dibawa pulang, diperiksa oleh ponakaan yg siswa perawat

Dirumah, saat itu aku tengah setrika baju. Sambil chat di bbm dan dapat kiriman foto dari kakak perempuan yang sudah nyampe disana. Ga lama sekitar jam 14an ada telp masuk yang mengabari aku untuk segara pulang karena kondisi Bapak makin kritis. Ga jelas karena kakakku yang nelp sambil nangis. Jadilah sambil nangis dan beberes keperluan pulang, telp suami agar segera pulang. Ternyata saat aku beberes aku masih beranggapan Bapak masih ADA meski kritis, tapi ada UPDATE kabar yang malah aku terlewat blm dikabarin ulang. Yaaa... Bapak sudah diambil-Nya. Jelas sekali saat kakakku menelepon agar anak-anaknya tolong diajak sekalian, "noy, tolong ajak anak2ku sekalian ya. bapak dikuburnya nunggu kamu datang".
Jedeeerrrr.... kek ditampar kek disambar petir, mendadak lututku lemas dan lansung jatuh terkulai sambil tetap pegang telepon. Untuk memastikan aku teriak ditelp dan menyalahkan kakakku yang ga update kabar td. "jadi bapak sudah ga ada???!!!!". Beruntung suamiku sudah datang, pas sekali dia tepat dihadapanku dan memelukku. Rasanya ga percaya..... Smoga ini cuma mimpi buruk ya Allah. Bangunkan aku segera kalo memang ini mimpi.
Semua memang sudah diatur-Nya, ga ada yang serba kebetulan. Apa aku benar??

Sepanjang perjalanan air mata ga berhenti mengalir, dada sesak, berdegup kencang, seperti ada yang akan meledak. Untuk melapangkan hati sejenak, masih sempat pasang status di bbm dan ym "selamat jalan Ayah, cintaku selalu untukmu". Sejak itulah mengalir ucapan belasungkawa dari teman dan sahabat di bbm dan ym. Ga lama wall di fb juga mulai penuh dengan ucapan bela sungkawa, sms dan telp yang hanya bisa kujawab singkat-singkat saja karena memang ga sanggup untuk berbicara banyak. Terima kasih banyak teman, sahabat, sodara, atas perhatian yang begitu besar. Sangat berarti buat saya waktu itu, betapa saya tidak sendirian. Betapa banyak orang-orang yang sayang terhadap saya. Terima kasih ya Allah aku mempunyai mereka. Terima kasih pula atas doa-doa mereka buat Bapak, saya dan keluarga.
Bapak sudah berpulang :((

Cerita yang aku dengar, Bapak seperti sudah siap untuk berpulang. Bapak pulang dengan tersenyum, sempat mengucapkan AllahuAkbar dan kedua tangannya berusaha bersedekap. Padahal bagian badan sebelah kanan tidak dapat digerakkan awalnya. Itupun sebelumnya kakak lelakiku sempat membisikan ditelinga Bapak, "Pak, Bapak ini sudah dirumah, abis ini anak-anakmu datang semua". Bapak terlihat mengeluarkan airmata, ya... Bapak menangis, mungkin dia hanya bisa memberi isyarat seperti itu kalo beliau mendengarnya.
Meninggalnya pun di hari Jumat selepas orang jumatan, kata orang-orang Insyaallah Bapak masuk Surga, karena memang Bapak adalah orang yang sangat sabar. Aamiin...

Eniwei sepanjang perjalanan berasa lama sekali, dalam hati dah ga karuan rasanya. Nyampe disana jam 19 kurang, langsung aku setengah berlari sambil menggendong Ririz masuk menerobos kerumunan orang-orang. Dan duduk bersimbuh didepan keranda. Aku sudah ga bisa melihat langsung wajah Bapak untuk yang terakhir kalinya. Aku ga tega kalo harus membongkarnya kembali meski sudah dapat ijin kalo aku boleh melihatnya. Aku hanya bisa berdoa, menangis, mengelus kerandanya yang sudah rapi dan berkalung untaian melati.
Sungguh bagai mimpi, aku ga percaya kalo didalamnya terdapat jasad Bapakku. Rasanya masih belum ikhlas, tapi kasihan beliau ga akan tenang kalo aku masih bersikap seperti itu.
Tamu-tamu disitu ada yang kenal dan tidak, ga aku perdulikan. Aku hanya bisa nungguin didepan keranda Bapak. Seperti belum rela berpisah. Begitu juga ketika akan dikuburkan, kita bertiga langsung masuk kebelakang ambulance menemani Bapak untuk yang terakhir kalinya.

*ngelap air mata yang ga berhenti turun* duh... kenapa jadi melow begini :((
Ambulance berhenti didepan gang kecil di sedandang, ternyata akan disholatkan kembali ditempat Bapak berasal. Dan juga Budhe yang sedang sakit ingin 'bertemu' juga untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu baru dibawa ke pekuburan yang ga begitu jauh dengan berjalan kali.
Udah ga ada rasa seram memasuki kuburan malam-malam, aku pulang paling terakhir. Ga tega seperti meninggalkan Bapak sendirian ditempat yang gelap dan dingin. hiks....
Ya Allah, lapangkanlah kuburnya... terangilah kuburnya... terimalah segala amal ibadahnya selama didunia. Aamiin.

Suamiku tidak sempat ikut menyolatkan jenasah Bapak karena waktu dirumah duka banyak tamu2 perempuan, yang seharusnya jenasah itu berada di ruang netral. Begitu di Sedandang, suamiku sedang menggendong Ririz yang ga tega meninggalkan sendirian ketika aku titipkan ke kakak ipar. Ke pemakaman juga ga bisa ikut karena Ririz ga mungkin dibawa kesana. Gpplah karena memang keadaan yang tidak memungkinkan. Suamiku membebaskan aku saat itu tidak handle Ririz karena aku fokus pada pemakaman Bapak.

Miris, berangkat kami naik ambulance dengan jenasah Bapak. Pulangnya kami naik mobil(ku) dan seperti ada yang hilang, seperti ada yang direnggut dari kami. Kami berlima saat itu dimobil tapi kenapa seperti 'sendirian'.
Kakak lelakiku bercerita sempat merekam suara ngorok Bapak yang 'aneh' karena sangat teratur dan berirama. Dia rekam di hapenya, dan diperdengarkan kepada kami. Subhanallah merinding mendengarnya. Suara ngoroknya seperti sedang berdzikir "Allah...Allah...Allah...Allah...". Antara merinding dan pengen nangis. Direkam saat masih berada di ICU.

Sekarang sudah lewat lebih 40 harinya. Tetap masih belum percaya aja, serasa Bapak masih ada disana yang setiap saat bisa kutelp di hapenya seperti biasa.
batu nisannya, mimpikah??

NOTE:
Semua tulisan dan foto-foto disini hanya untuk dokumentasi pribadi saya, mohon maaf apabila pembaca tidak berkenan.

Comments

Nadya Pramita said…
ikut berbela sungkawa ya nor.... semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan senantiasa...
shava said…
Nyaaah....*peluk

Popular posts from this blog

Jogja

Sebelumnya mo ngucapin terima kasih buat temen-temen yang sudah mampir dan ngucapin selamat atas kehamilan yang kedua ini, syukur alhamdulillah terima kasih juga doanya. Amin... Sekarang mo cerita liburan dadakan yang ga direncanakan sebelumnya. Waktu Ayah masih di Jakarta (akhir mei) dapat kabar kalo Mbah Wito (kakek dari si Ayah) meninggal di Kutowinangun-Kebumen. Maunya si Ayah pulang ke Surabaya dulu dan 1 Juni tanggal merah pagi-pagi berangkat sendiri ke sana, menyampaikan bela sungkawa dan mamahnya sudah ada disana sejak si mbah masih sakit. Masalahnya hari senin, tgl 4 si Ayah kudu balik lagi ke Jakarta sampe hari kamis (pasti capek banget). Tiba-tiba hari kamis pagi sebelum malamnya pulang ke Sby si Ayah sms bilang kalo kita juga diajak (halah bilang aja minta ditemenin) dan sogokannya " ikut ya.... nanti pulang dari sana mampir jogja dulu nginep semalem aja trus jalan-jalan ke Malioboro" . Hem... boleh juga nih sogokannya, maunya dipikir-pikir dulu tapi si Ayah keuke...

Haji vs Jablai vs Mewarnai

Update dong… update… hehehe… biasa penyakit malesnya lagi singgah. Selain itu, karena ditinggal suami yang lagi-lagi harus ke Jakarta jadi makin males aja deh. Hiks… kesepian dunk (jablai neng? Ah ga kok…*malu ga mau ngakuin, tuing….) Manasik Haji Eitt… jangan salah duga, bukan kita kok yang ikutan manasik haji (padahal pengen banget naik haji). Ceritanya Opi tanggal 10 Maret ikutan acara Manasik Haji di Sukolilo (Asrama Haji) yang diadakan KB-TKIT se-Surabaya. Disono kumpul ama TK Islam lainnya. Dia sih dari seminggu sejak diumumkan sudah girang banget dan semangat pula. Tiap hari dihitungin kurang berapa hari lagi sabtu tgl 10 itu. Tapi berangkatnya dari sekolah pagi banget, kumpul aja paling telat jam 6 pagi. Waks… biasanya jam segitu dia baru melek, gimana kalo jam 6 sudah harus berangkat. Kudu jam berapa nih siap-siapnya, ritualnya banyak juga sih mulai dari minum susu, sarapan, sampe mandiin. Untung dengan sukses dia bisa siap sebelum jam 6 dan itupun gara-gara disms Ayah yang ma...

hiks... ketipu!

Niatnya sih pengen makan terang bulan Holland, udah lama ga pernah beli makanan itu. Kangen kayak orang ngidam aja. Jadilah pesen ke suami agar pulang dari kantor mampir dulu belikan terang bulan itu. Tapi tempat yang biasa kita beli agak jauh dari rute kantor-rumah (Jl. A.Yani), kalo maksain sih bisa tapi bolak-balik alias ga searah kasihan suami dong, eh caype deh.... Tapi dasar suami sayang banget ma kita (*cieh pede banget), jadinya disanggupin tapi kalo ga keburu ya nanti dibelikan yang deket-deket sini aja alias searah pulang kerumah. Kayaknya sih kita emang pernah liat didepan ruko Makro ada yang jualan Holland gitu, tapi ga yakin itu asli atau kagak. Tahu sendiri kan hari gini banyak yang niru alias aspal. "Pokoknya kalo mau beli, liat dulu kemasannya ato kotaknya. Tahu kan kotak yang asli gimana?" hehehe... gitu pesen dirikuh pada suamikuh (*halah...). Girang banget, suami pulang yang disambut pertama adalah oleh-olehnya (*hus.... ga deng!). "Makasih ya sayang.....

Just Born

Alhamdulillah telah lahir putri ke-2; Nama : RIZWANA PUTRI ADIRA (ririz) Hari : Selasa Tanggal : 5 Februari 2008 Jam : 09.20 WIB Berat : 3400 gram Panjang : 50 cm Umur: 1 hari (5 Feb 2008) Sesaat setelah lahir Opi yang gemes ma adiknya Setelah beberapa hari pulang kerumah, aih senyumnya.... Posisi Tidur-1 Posisi Tidur-2 (yang ini nurun emaknya :P)

Outing ke Tretes

Sabtu, 11 Nov kemarin kita ikut Ayah acara Outing kantornya sekaligus acara kumpul-kumpul dengan keluarga besar kantor, jadi ga kenal nama lagi tapi udah tahu yang mana orangnya sekaligus kenal juga dengan anak dan istrinya. Jam 13 Ayah pas nyampe dirumah, untungnya pesawat dari Singapore ga delay jadi nyampe Surabaya pas sesuai dengan rencana, coba telat dikit pasti udah ditinggal dan kita nyusul sendiri deh. Opi udah nanyain terus kapan Ayahnya nyampe rumah, begitu liat Ayahnya turun dari taxi dia langsung teriak manggil Ayahnya dan menyambutnya dengan acara peluk-pelukan. Sambil dia tersipu-sipu (*kayak ga pernah ketemu aja), matanya juga mulai berkaca-kaca. Aduh-duh... anakku ternyata kangen banget ama Ayahnya, sampe mo nangis. Dipeluk lagi deh.... hehehe... emaknya dicuekin dulu, ga sabar ikutan meluk juga deh. Abis kalo Opi liat kita pelukan pasti cemburu trus cemberut dan mewek, kalo bertiga aman deh. Ayahnya seneng banget dikangenin anaknya. Bongkar muatan dulu (*tas maksudnya)...