Lagi-lagi musibah terjadi, dan lagi-lagi kecelakaan pesawat. Terhitung sejak awal tahun mulai dari pesawat Mandala (Cengkareng-tergelincir), Air Asia (roda terkunci), Adam Air (hilang misteri dilaut belum ada kabarnya tentang penumpangnya), Adam Air (hard landing di Surabaya), dan terakhir hari ini Garuda di Jogya yang kabarnya hard landing juga tapi terseret dan meledak terbakar. Banyak korban jiwa, Innalilahiwainnailahirojiun....
Sampe sekarang pihak Garuda juga belum tahu apa penyebab terjadinya kecelakaan.
Sampe sekarang pihak Garuda juga belum tahu apa penyebab terjadinya kecelakaan.
Bahkan kemarin, Selasa (6 Maret) sewaktu suami akan berangkat ke Jakarta dari bandara Juanda Surabaya yang naik Lion Air sedianya jam 7 pagi sudah terbang ternyata delay. 7.30 telp ngabarin kalo masih belum bisa terbang dengan alasan pesawat ga bisa take off (*waduh gimana landingnya ntar kalo take off aja ga bisa).
Yang dirumah sih cuman bisa berdoa dan berharap ga akan ada masalah, meski semua kerjaan rumah ga bisa dikerjakan karena pikiran ga tenang. Jam 8.30 baru dapat kabar lagi kalo sudah siap terbang dengan pesawat pengganti. Syukur alhamdulillah nyampe Cengkareng dengan selamat tapi sakit kepala juga nunggu sekian lama (*masih bersyukur deh kalo cuman sakit kepala daripada kenapa2).
Tetangga sebelah rumah yang kebetulan crew Garuda (teknisi) waktu ditanyain juga ga bisa tahu penyebabnya karena tahu beritanya juga dari tivi. Dia hanya berkomentar kalo pesawat yang terbakar itu adalah pesawat baru (*waks... pesawat baru aja bisa seperti itu gimana kalo pesawat tua yang sudah harusnya diaudit???).
Semoga ayahnya Opi hari Jumat, perjalanan pulang ke Surabaya ga ada masalah. Sekarang mau naik apa aja ga ada jaminan deh, meski naik garuda yang dikenal paling mahal tiketnya juga ga menjamin aman. Namanya musibah bisa menimpa kapan saja kalo sudah takdirnya.
Kasihan Indonesia selalu berduka, mulai dari musibah bencana alam seperti longsor, gempa, tsunami, banjir, sampe tenggelamnya kapal laut. Semua itu faktor manusia....
Yang dirumah sih cuman bisa berdoa dan berharap ga akan ada masalah, meski semua kerjaan rumah ga bisa dikerjakan karena pikiran ga tenang. Jam 8.30 baru dapat kabar lagi kalo sudah siap terbang dengan pesawat pengganti. Syukur alhamdulillah nyampe Cengkareng dengan selamat tapi sakit kepala juga nunggu sekian lama (*masih bersyukur deh kalo cuman sakit kepala daripada kenapa2).
Tetangga sebelah rumah yang kebetulan crew Garuda (teknisi) waktu ditanyain juga ga bisa tahu penyebabnya karena tahu beritanya juga dari tivi. Dia hanya berkomentar kalo pesawat yang terbakar itu adalah pesawat baru (*waks... pesawat baru aja bisa seperti itu gimana kalo pesawat tua yang sudah harusnya diaudit???).
Semoga ayahnya Opi hari Jumat, perjalanan pulang ke Surabaya ga ada masalah. Sekarang mau naik apa aja ga ada jaminan deh, meski naik garuda yang dikenal paling mahal tiketnya juga ga menjamin aman. Namanya musibah bisa menimpa kapan saja kalo sudah takdirnya.
Kasihan Indonesia selalu berduka, mulai dari musibah bencana alam seperti longsor, gempa, tsunami, banjir, sampe tenggelamnya kapal laut. Semua itu faktor manusia....
Comments
eniwei.. bosnya papaku ada di pesawat garuda naas itu.. blom ada kabar selamet apa enggaknya pula..
Innalillahi.. *sedih..*